Jalin Sinergi Waspadai Antraks

Jalin Sinergi Waspadai Antraks

Dalam dunia kesehatan manusia mau pun hewan, antraks meru pakan penyakit yang menjadi prioritas di Kementerian Pertanian maupun Kementerian Kesehatan. Kerja sama yang baik antara kedua kementerian itu sangat diperlukan dalam menanggulangi dan mengendalikan wabah penyakit yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) tersebut. Saat ini, ada 14 provinsi (37 kabupaten/kota) yang menjadi daerah endemik antraks. Terakhir kasus antraks merebak pada sapi potong di Kulonprogo, Yogyakarta. Untuk pencegahannya perlu dilakukan vaksinasi sesuai anjuran serta pemantauan yang ketat.

Balitbang Kementan dengan Balitbang Kemenkes saling bersinergi untuk memperhatikan masalah kesehatan yang berhu bungan dengan manusia dan hewan. Nota kesepahaman tersebut dilakukan oleh Kepala Balitbang Kementerian Pertanian Muhammad Syakir dan Kepala Balitbang Kementerian Kesehatan Siswanto, belum lama ini di Gedung Balitbang Kementan, Jakarta. Syakir mengatakan, penandatanganan nota kesepahaman dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan antara pertanian dan kesehatan.

Konsep One Health

Selain penandatanganan MoU antara Kepala Balitbang Kementan dan Kemenkes, nota kerjasama juga dilakukan antara Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) dengan Pusat Litbang Biomedis Teknologi Dasar Kesehatan. Balitbangtan melalui BB Litvet turut mendukung program penguat an koordinasi pemberdayaan ilmu pe ngetahuan dan teknologi pengendalian zoonosis melalui konsep One Health. “Balitbang Kementan akan memeriksa kondisi penyakit hewan yang berhubungan dengan manusia, selanjutnya pihak Balitbang Kemenkes akan memeriksa kondisi kesehatan manusia yang diakibatkan oleh hewan,” imbuh Syakir. Kepala BB Litvet, NLP Indi Dharmayanti mengutarakan, BB Litvet telah meng ha silkan inovasi terkait penanganan antraks.

Di antaranya, vaksin antraks yang sudah diproduksi Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma) Surabaya dan telah digunakan secara luas. “Vaksin Filtrat, Subunit dan Ae rosol juga sudah dikembangkan. Vaksin oral masih dalam proses pengembangan. Untuk membantu diagnosis penyakit dila kukan teknik secara kultur, PCR, Ascoli, ELISA dan Direct fluoRecent Assay,” jelasnya. Siswanto menambahkan, konsep One Health antara manusia dan hewan sangat lah penting. Untuk itu perlu pen dekatan terintegrasi. “Penggunaan konsep ini perlu dilakukan untuk dapat mengatasi permasalahan penyakit yang disebabkan oleh virus dari hewan ke manusia secara cepat,” tandasnya.

Kawal Antraks

Menurut Syakir, penyakit antraks harus dikawal dengan ketat karena mendatangkan implikasi negatif yang sangat kuat. Kinerja institusi, lanjutnya, perlu di optimalkan lantaran penyakit pada hewan berkuku genap ini tidak hanya berdampak kepada kesehatan manusia, tapi juga hewan. “Kedua lembaga harus solid dan bersama-sama turun melakukan langkah terapi,” papar mantan Kepala Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik ini.

Ia menjelaskan, bakteri antraks (Bacillus anthracis) yang keluar dari tubuh inang dan yang berhubungan dengan udara bebas atau jatuh ke tanah akan membentuk spora. Setelah membentuk spora, bakteri dapat bertahan hidup sangat lama sampai 20 tahun lebih sehingga dapat menjadi sumber penularan pe nyakit, baik kepada manusia maupun hewan ternak. Sementara Siswanto memaparkan, kerjasama kedua belah pihak ini bertanggung jawab mengatasi penyakit zoonosis yang dapat menular ke manusia, serta untuk pengendalian dan penanganan penyakit sesuai dengan tupoksinya masingmasing. “Edukasi penyakit antraks kepada masyarakat juga menjadi hal utama karena penanganan yang salah dapat menyebabkan penularan ke manusia,” tambah lulusan University of Nagasaki ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *